Langsung ke konten utama

green screen

Layar Hijau (Green Screen)


Layar hijau atau lebih dikenal dengan istilah green screen, sudah sejak lama digunakan Hollywood untuk memanipulasi background atau latar belakang dari obyek utama. Dengan menggunakan layar hijau ini obyek utama (biasanya orang) bisa ditempatkan di lokasi manapun tanpa harus berada di sana saat pengambilan gambar. Teknisnya yaitu dengan menghilangkan latar yang berwarna hijau tersebut dan mengganti dengan gambar lain melalui software di komputer.

Melirik teknologi Hollywood tersebut, dalam gelombang digitalisasi yang semakin mencengangkan, tampaknya fotografi juga mulai mengaplikasikan teknik ajaib ini. Kita bisa menawarkan kepada model kita untuk berfoto di depan menara Eifel, gedung Capitol, atau tugu Monas (banyak loh yang belum pernah ke monas), tanpa kita harus pergi ke tempat-tempat tersebut. Kita hanya akan memrosesnya di komputer dengan software pengolah gambar atau foto.

Penggunaan layar hijau tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Sebab sebenarnya kita akan melakukan efisiensi di banyak hal dalam fotografi. Kita tidak perlu membeli berlembar-lembar layar background dengan gambar pemandangan dan berlembar-lembar lainnya untuk lukisan bunga warna-warni. Lalu bagaimana jika anak-anak SMA ingin berpose di depan lukisan futuristik, atau balita tentangga ingin difoto dengan latar belakang Upin Ipin atau Spongebob? Belum lagi aturan pembuatan KTP yang mengharuskan penggunaan warna merah untuk tahun lahir ganjil dan biru untuk tahun lahir genap. Belum berkarya kita sudah bangkrut karena membeli background. Bandingkan jika kita menggunakan layar hijau. Kita bisa skip masalah-masalah sepele itu dan lompat ke soal yang lebih penting. Oke, kan?

Kenapa harus hijau?

Tenang, ini bukan soal partai. Tujuan utama dari penggunaan layar hijau adalah untuk menonjolkan obyek utama sekaligus melakukan blocking terhadap latar belakang sehingga mudah untuk diedit atau dihilangkan untuk kita ganti dengan gambar lain. Sebelum green screen, sebenarnya istilah blue screen lebih dahulu populer dan digunakan Hollywood. Namun saat ini mereka lebih sering menggunakan layar hijau dan mulai meninggalkan layar biru untuk manipulasi background. Entah alasan mereka apa, yang jelas dalam melakukan editing warna hijau dalam fotografi, baik itu dalam pemisahkan latar dari obyek utama maupun saat penetralisiran warna hijau yang tersisa di bagian pinggir obyek, akan lebih mudah jika kita bekerja dengan warna hijau ketimbang warna biru. Warna biru masih bisa kita gunakan jika obyek atau model kita didominasi oleh warna hijau. Misalkan saat pemotretan, model menggunakan baju hijau atau jika ia adalah makhluk dari Mars, maka kita bisa menggunakan latar biru. Kembali ke aturan awal, yaitu menonjolkan obyek dari latar.

Nah, jika filosofinya sudah kita pahami -cieh, filosofi layar hijau-, selanjutnya tinggal kita persiapkan apa saja yang diperlukan untuk jadi praktisi layar hijau ini.
Yang pertama, karena kita akan bermain dengan fotografi maka tentu saja kameralah yang harus kita siapkan. Cukup kamera hape dengan kemampuan 2 mp atau lebih saja. Sebab jika kita mulai dengan DSLR 450D-nya Canon atau D60-nya Nikon, akan berbeda pendalaman bahasan selanjutnya. Maksudku, kalau kita punya gebetan, tentu saja akan berbeda pendekatannya tergantung dia anak pedagang soto atau anak kepala desa (tjap djadoel).
Kedua, siapkan layar hijaunya. Hollywood menggunakan layar hijau berbahan semacam plastik dengan harga fantastik bikin mata mendelik. Kalaupun kita bertanya ke setiap toko yang ada di kota kita, pasti tidak ada yang menjual 'layar hijau'. Tapi jangan down dulu sebab perjuangan masih panjang. Kita bisa menggunakan apapun untuk dijadikan layar hijau, ya... apapun, asalkan berwarna hijau -bolehbaca:uang-. Kita bisa mengecat tembok rumah dengan warna hijau. Atau bisa juga menggunakan kain lebar berwarna hijau. Untuk tembok, pilihlah bagian yang paling rata dan mulus tanpa lubang. Sebab gelombang dan cekungan di tembok bisa menimbulkan bayangan yang akan mempersulit kita saat melakukan pengeditan. Untuk kain, pilihlah kain dengan bahan yang tidak menimbulkan kilatan balik cahaya dari lampu, polos dan tidak mudah kusut. Saat pemasangan kain, sebisa mungkin untuk menghindari lipatan atau kerutan yang bisa menimbulkan bayangan saat terkena sinar. Untuk pemilihan warna hijau, sebaiknya jangan terlalu tua. Sebab biasanya penerangan tanpa lampu studio menghasilkan pencahayaan yang kurang memadai sehingga latar menjadi terlalu gelap dan susah untuk diedit. Untuk itu kita memerlukan hijau yang lebih muda atau terang.
Ketiga, penerangan. Idealnya kita menggunakan lampu studio, baik jenis strobo maupun continues. Jika belum ada, kita bisa memasang lampu neon sebanyak dan seterang mungkin agar ruangan terang benderang dan meminimalisir bayangan. Kita juga bisa memanfaatkan cahaya matahari dengan menempatkan lokasi pemotretan di luar ruangan, misalnya di tembok belakang rumah saat siang hari. Ingat, hindari obyek utama dari sinar matahari yang jatuh langsung jika tanpa difuser atau reflektor.
Keempat, software. Kita bisa menggunakan Photoshop untuk melakukan editing layar hijau ini. Hanya saja, sangatlah susah mencari buku yang membahas cara mengedit foto dengan layar hijau. Nah, pada topik lain kita akan membahas soal ini, sampai kita bisa menjadi seorang pengendali Photoshop -seperti Aang si pengendali udara- yang bahkan bisa melakukan seleksi pada rambut yang terurai, dengan sempurna. Atau jika ingin mencoba software yang khusus menangani seleksi layar hijau, bisa download di www.greenscreenwizard.com.

Oke, selamat berkreatif...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Mengolah Foto HDR

  Akhirnya saya punya hobi baru kawan. Sebenarnya hobi yang sudah lama terpendam namun belum dikeluarkan karena peralatan yang dimiliki belum memadai. Sekarang sudah agak lumayan walaupun masih menggunakan peralatan entri level, buat belajar dulu. Sekarang seminggu sekali saya muter – muter jeprat jepret sekalian mengeksplor Bali lebih luas. Setelah jepret sana sini dan saya bandingkan dengan foto di forum – forum fotografi hasil foto saya kurang tajam. Di forum – forum tersebut warna yang dihasilkan begitu tajam. Biru bisa nampak begitu biru. Begitu juga warna –warna yang lain. Ternyata oh ternyata ini salah satu rahasianya. Mau? Namanya HDR kawan. High Dynamic Range. Pada prinsipnya, mengolah foto HDR ini yaitu menggunakan beberapa foto yang memiliki exposure yang berbeda – beda kemudian disatukan sehingga memiliki rentang tone yang lebih luas. Efeknya? Warnanya pun tajam.  Sebenarnya untuk membuat foto HDR ini diperlukan 2 hal yaitu bahan dan proses. Bahannya adalah fo...

Nusantara Online, Game Online Pertama Buatan Indonesia

Nah, ini dia game online pertama buatan Indonesia. Namanya Nusantara Online , yang berkisah tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia. Setelah melewati masa uji coba selama kurang lebih 4 tahun, akhirnya game ini dapat dimainkan oleh penggila game di tanah air. Sebenarnya game ini sudah siap sejak pertengahan tahun 2009, tapi karena dirasakan masih ada perlunya uji coba akhirnya game ini meluncur 6 bulan kemudian. Gaame Nusantara Online meerupakan game Massively Multiplayer Online Role Playing Game (MMORPG) pertama buatan Indonesia. Dengan menggunakan enggine yang bernama ANother Game Engine Library (ANGEL) yang juga asli buatan putra-putri Tanah Air. Walaupun masih menggunakan engine yang kurang canggih, pihak pengembang yakin game ini akan populer 2-3 tahun kemudian. Bukan hanya engine game yang menentukan, tapi juga alur cerita dari game itu sendiri. Nusantara Online mengangkat cerita budaya Indonesia pada saat masih terdiri atas kerajaan. Tentunya ini adalah hal yang s...

Peluang Membangkitkan Industri Animasi Indonesia

Post Production VS Animation House Industri animasi Indonesia bagai dunia persepakbolaan kita. Banyak yang  gandrung , tapi industrinya mudah terseok-seok. Kalaupun ada yang berkilah animasi Indonesia sebenarnya bagus mungkin yang dimaksud  bukan industrinya , tapi lebih ke  individu  para animatornya. Jika mau jujur, perusahaan yang terkait dengan animasi, yang berkembang di Indonesia adalah post-production,  yang sebagian besar ada di Jakarta. Sudah jamak diketahui di kalangan pekerja seni bidang film, iklan dan animasi,  para animator  handal  kita lebih sering nongkrong di  post-production . Dengan tarif yang lumayan tinggi, wajar jika pada akhirnya  post-production  menjadi tumpuan mencari nafkah. Ironisnya  animation house  tidak tumbuh sesubur  post-production . Beberapa rumah produksi yang lumayan berkembang, baru sebatas memenuhi permintaan produksi dari pihak luar negeri dengan batasan-batasan terten...